Jul 9, 2009

Asal Usul

Sementara itu W.V. Van Royen menulis dalam bukunya “ DePalembang Sche Marga (1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ yang berarti kelompok masyarakat yang ulet dan dinamis, dan seorang sejarawan dari Belanda Van Der Tuc menyebut kelompok masyarakat ini dengan nama “ Kembiring “ yang di artikan sebagai manusia jadi-jadian ( orang yang dapat menghilang dan bisa berubah menjadi Harimau ).
Nama sungai Komring sendiri diambil dari nama seorang saudagar buah Pinang yang berasal dari India yang bernama Komring Singh , makam ( kuburan ) nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua, sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari pertemuan sungai Selabung dengan Wai Saka yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring, tidak semua penduduk yang mendiami sungai komring di sebut orang komring, aliran sungai Komring sampai di Gunung Batu, penduduknya terbagi dalam 2 ( dua ) Kewedanaan Muara Dua dan Kewedanaan Martapura , sebagian penduduk kewedanaan Muara Dua di sebut Jelma Daya bukan Orang Komring walaupun mereka tinggal di pinggir sungai Komring sementara itu penduduk yang termasuk kewedanaan Martapura di sebut orang komring.
Kelompok masyarakat ini awalnya berasal dari Gunung Seminung yang membawa Budaya Rumpun Seminung. Masyarakat Rumpun Seminung tergolong suku Melayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Melayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta , Kelompok masyarakat ini kemudian berkembang dan menyebar menjadi beberapa kelompok masyarakat.
- Yang pertama - Kelompok masyarakat yang mendiami sekitar daerah gunung seminung sampai ke Ranau kemudian terbentuk masyarakat Ranau.
- Yang kedua - Kelompok masyarakat yang turun dari Gunung Seminung kearah Lampung kemudian di kenal dengan kelompok masyarakat Lampung Peminggir.
- Yang ke tiga - Kelompok masyarakat yang turun dari Gunung Seminung menyusuri aliran sungai yang kemudian di kenal dengan kelompok Samanda Di Way yang sekarang menjadi masyarakat yang kita kenal dengan Orang Komring atau Jolma Daya..

Menurut sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan ( 1979 ) Jelma Daya adalah kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu adalah kelompok Semendawai. Semendawai berasal dari kata Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai . Kelompok masyarakat ini kemudian berkembang dan berpencar membentuk 7 ( Tujuh ) Kepuhyangan ( kepuyangan) , antara lain :
- Kepuhyangan Pertama menempati pangkal teluk yang agak membukit yang kini kita kenal dengan nama GUNUNG BATU, kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Ratu Sabibul .
- Kepuhyangan Kedua menempati suatu dataran rendah yang kemudian dinamakan MALUWAY, kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Kai Patih Kandil.
- Kepuhyangan ke Tiga menempati muara sungai di dalam teluk yang kemudian dikenal dengan nama MINANGA , kelompok ini di pimpin oleh Pu Hyang Minak Ratu Damang Bing.
- Kepuhyangan ke Empat menemukan padangan rumput yang luas kemudian menempatinya, pekerjaan mereka membuka padangan ini yang di sebut Madang yang kemudian dijadikan nama Kepuhyangan Madang, tempat pertama yang mereka duduki di namakan GUNUNG TERANG, kelompok ini di pimpin oleh Puhyang Umpu Sipadang.
- Kepuhyangan ke Lima di Pimpin oleh Pu Hyang Minak Adipati yang konon kabarnya suka membawa peliung yang kemudian di jadikan nama kepuhyangan Pemuka Peliung, dari kepuhyangan inilah kelak di kemudian hari setelah terjadinya Perang Abung ( 1400 M ) antara dinasti Paksi Pak dari Sekala Berak dengan Orang Abung, kemudian menyebar mendirikan kepuhyangan baru antara lain Kepuhyangan Banton di pimpin oleh Pu Hyang Ratu Penghulu, Kepuhyangan Pulau Negara yang di pimpin oleh Pu Hyang Umpu Ratu.
- Kepuhyangan ke Enam di bawah pimpinan Pu Hyang Jati Kramat , yang dipercayai oleh penduduk setempat bahwa istri beliau berasal dari atau keluar dari Bunga Mayang Pinang sehingga di abadikan pada nama kepuhyangan mereka , Kepuhyangan Bunga Mayang.
- Kepuhyangan ke Tujuh di pimpin oleh Puhyang Sibalakuang, kelompok ini pada mulanya menempati daerah MAHANGGIN yang kemudian setelah terjadinya perang Abung mendirikan cabang – cabang di daerah sekitarnya seperti Sandang, Rawan, Rujung, Kiti, Lengkayap dan banyak kepuhyangan ini mengunakan nama Bhu Way.

thank's to - A'im Gantesa

Sep 20, 2008

Beautiful III

Pada tulisan ketiga ini akan komering uraikan secara sangat singkat sesuai janji komering tentang tradisi memetik duku...banyak orang telah mengatakan duku komering adalah duku yang terbaik selain bentuk buah yang tergolong besar duku komering juga sangat terkenal akan rasa manis yang tidak dimiliki oleh duku-duku yang dihasilkan dari daerah alin di Indonesia...
Komering uraikan tentang tradisi memetik duku yang terjadi pada masa dahulu digunakan sebagai ajang untuk mencari jodoh, karena salah satu kebanggaan masyarakat komering adalah buah duku maka tulisan ini akan menggambarkan seni memetik buah duku dan perjodohan yang terjadi.
Buah duku komering sangat terkenal karena rasa yang manis hal ini dikarenakan selain daerah komering yang dikategorikan subur untuk menanam buah-buahan seperti durian,mangga pisang serta duku dan masih banyak jenis buah yang lain,duku komering juga dikenal manis karena faktor usia dari pohon tersebut, pada umumnya buah yang tergolong manis berasal dari pohon yang berusia minimal 20 sampai 25 tahun (walau pada umur 5 tahun pohon duku telah menghasilkan buah), dari satu batang pohon bila pada musim Emas (istilah yang dipakai orang komering karena limpahan panen) bisa mencapai 100 (seratus) peti bahkan lebih yang masing-masing satu peti berkisar antara 15-17 kg dan apabila panen pada musim-musim normal berkisar antara 50-80 peti per pohon dapatlah dibayangkan bila harga 1 Kg berkisar Rp.1,500 (pada masa panen biasa) atau Rp.500-Rp 1000 (masa panen emas). Ada kategori atau kelas tertentu pada duku yang dapat mempengaruhi harga duku hanya dengan melihat proses pemetikan (harga tersebut diatas adalah harga untuk duku yang paling bagus dan bayangkan bila harga duku yang dipetik tetapi pernah jatuh sampai tanah....hmmm bingung....:)) tapi pada tulisan ini tidak akan komering uraikan.
(komering ambil kasus buah duku untuk konsumsi sendiri)
Pemetikan buah duku umumnya berlangsung dari pagi hari berkisar antara pukul 08.00 sampai 16.00 pemetikan biasanya dilakukan oleh pihak laki-laki baik itu ayah dan anak laki-laki maupun saudara laki-laki.
Pada proses pemetikan ini sang istri akan menyiapkan makan siang yang akan dimakan di kebun, (contoh kasus laki-laki dan wanita belum mempunyai hubungan) yang biasanya meminta “bantuan”dari anak perempuan untuk memasak dan mengantarkan makanan ke kebun biasanya dalam tradisi memetik duku akan banyak yang hadir menolong untuk mengumpulkan buah duku yang jatuh, hal inilah yang digunakan oleh para pemuda maupun pemudi untuk mengenal satu sama lain, pada saat makan siang adalah waktu yang biasanya digunakan untuk mengenal satu sama lainnya, pada umumnya proses perkenalan ataupun pendekatan pemudi oleh pemuda dilakukan pada acara tertentu saja hal ini dikarenakan masih kentalnya pengaruh orang tua maupun saudara dari pihak wanita terhadap siwanita maupun keluarganya, sehingga setiap ada kesempatan besar seperti pernikahan, panen buah maupun saat silaturahmi pada bulan syawal sangatlah menjadi moment yang sangat berharga sehingga bila datang moment-moment tersebut merupakan ajang untuk mencari dan menentukan langkah menuju kejenjang kehidupan yang lebih panjang.
Komering sangat bahagia akan kunjungan teman-teman dari segala penjuru negri, komering ingin memperkenalkan satu suku yang mungkin asing, belum pernah bahkan aneh ditelinga sobat-semua ....segala kritikan dan saran akan komering ambil sebagai salah satu langkah kemajuan untuk komering pribadi dan masyarakat komering pada umumnya.Thank’s a lot
Add to Google Reader or Homepage Add to The Free Dictionary Subscribe in Bloglines Add to My AOL

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls