May 13, 2010

Istiadat Dalam komering

MELEWATI wilayah Komering, pengguna jalan memang harus hati-hati, terutama pada pekan-pekan setelah hari raya Lebaran. Bukan karena ancaman pemerasan atau perampokan, tetapi karena pekan-pekan tersebut banyak dilaksanakan acara pesta pernikahan.
SALAH satu rangkaian ritualnya, yaitu mengarak calon pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan, selalu mengakibatkan kemacetan.
Bayangkan jika sepanjang ruas jalan Kayu Agung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, dan Martapura, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, ada lima keluarga saja yang mengadakan acara perkawinan.
Barisan keluarga mempelai laki-laki dengan membawa berbagai macam hantaran berjalan kaki menuju rumah calon besannya. Tak ketinggalan para pemusik kelintang yang memainkan musik di sepanjang perjalanan, menjadikan prosesi arak-arakan tersebut sebagai tontonan yang menarik.
Upacara perkawinan tersebut adalah bagian dari adat yang masih dipegang oleh masyarakat Komering. "Dalam kesehariannya, masyarakat Komering masih memegang baik adat maupun ajaran agama Islam.
Perkembangan zaman, telah mengikis sejumlah adat kebiasaan masyarakat Komering. Namun, sejumlah kebiasaan belum sepenuhnya hilang, termasuk hal yang sangat sederhana, yaitu kebiasaan memelihara rambut panjang.
Masyarakat Komering yang patrilineal sangat membatasi gerak kerabat perempuan mereka. Di dalam keluarga, laki-laki bertugas menjaga martabat saudara perempuan dan keluarganya. Posisi laki-laki tersebut banyak disimbolkan dalam acara-acara adat.
Dalam rangkaian upacara perkawinan Komering dikenal ritual kandang ralang, yaitu pasangan pengantin diarak dalam kain putih yang panjangnya sampai 60 meter yang bagian tepinya dipegangi oleh sejumlah pemuda.
"Ritual tersebut menyimbolkan bahwa pengantin laki-laki akan menjamin keamanan dan kehormatan keluarga mertuanya.Kehormatan dan harga diri merupakan hal penting bagi seorang Komering. Akan tetapi, mereka sangat pantang mengakui kesalahan di depan orang banyak.
ASAL-usul masyarakat Komering memang tidak begitu jelas. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia yang diterbitkan LP3ES menyebutkan, seperti kebanyakan kelompok masyarakat di Sumatera Selatan, sistem kemasyarakatan Komering dipengaruhi adat Simbur Cahaya.
Simbur Cahaya adalah kumpulan hukum adat setempat yang diterapkan oleh Kesultanan Palembang. Hukum adat itu selain mengatur penguasaan kesultanan terhadap berbagai sumber daya, juga mengatur beragam aspek sosial, mulai dari perkara pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan, kegiatan ekonomi, masalah keamanan lingkungan, hingga politik dalam organisasi pemerintahan marga.
Undang-undang (UU) tersebut juga mengatur wilayah kekuasaan sultan di tingkat marga. Pemimpin marga disebut pasirah. Bawahannya adalah para kepala dusun yang disebut kerio. Selain struktur pemerintahan marga, ada tingkatan-tingkatan keluarga raja adat yang masih keturunan Kesultanan Palembang.
Simbur Cahaya berlaku sebagai UU dengan menerapkan sanksi yang tegas. "Saat hukum adat masih dipegang, laki-laki yang mengganggu perempuan bisa dikenai denda atau sanksi,
hukum adat berperan besar dalam menjaga ketertiban masyarakat Komering. "Tindak kriminalitas memang sudah ada sejak dulu, tetapi kontrol sosial melalui penerapan hukum adat pada masa lalu cukup kuat untuk mengurangi efeknya.
Kuatnya pengaruh hukum adat, tidak lepas dari peranan pemimpin marga. Para pasirah adalah tokoh yang benar-benar disegani karena kekuasaan mereka cukup besar. Mereka memegang fungsi yudikatif, eksekutif, dan kepolisian.
"Dulu, kejahatan-kejahatan kecil biasanya diselesaikan di tingkat marga. Para pihak-pihak yang terkait didamaikan, lalu diadakan sedekah.
Peran hukum adat sebagai pranata sosial masyarakat mulai pupus menyusul dihapuskannya sistem marga oleh Pemerintah RI pada tahun 1983. "Sistem pemerintahan desa tidak punya ikatan yang kuat dengan masyarakat. Sejak itu berbagai masalah sosial pun makin sulit dikontrol.
Meskipun sistem marga sudah tidak berlaku, secara fisik sejumlah peninggalannya masih ada. Di tengah Kota Martapura, kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten OKU Timur, tegak berdiri bangunan bergaya kolonial yang masih terawat baik. Pada masa Kesultanan Palembang maupun pemerintahan Hindia Belanda, gedung tersebut didiami oleh asisten demang, kepala pemerintahan yang membawahi sejumlah marga.
Pada Zaman dahulu, karena pergaulan antarmuda-mudi sangat dibatasi, orang-orang tua menyelenggarakan pesta adat untuk memberi kesempatan pada kaum muda bertemu,dengan mengenakan kain sarung dan baju kurung, para muda-mudi duduk berhadap-hadapan, bercakap-cakap dengan diawasi orang-orang tua dari kejauhan. "Kalau ada yang ingin berkenalan, biasanya menulis pesan dalam secarik kertas, lalu disampaikan oleh anak-anak kecil yang mendapat imbalan gula-gula,
Kebiasaan menitip surat untuk berkenalan itu hingga saat ini masih lestari di pelosok-pelosok kampung yang didiami masyarakat asli Komering. Meski saat ini pergaulan muda-mudinya sudah jauh lebih longgar dibandingkan dulu, saat adat masih dipegang ketat.
Menimbang suasana kehidupan pada masa marga yang lebih tertib, ada keinginan untuk kembali menghidupkan lembaga tersebut. "Dengan kembali ke sistem pemerintahan marga, maka adat akan kembali hidup.
MESKIPUN stigma sebagai masyarakat yang keras identik dengan masyarakat Komering, mereka cukup terbuka terhadap kehadiran orang luar.

presented by KOMERING
Copyright (2007) DOTY DAMAYANTI

Sep 27, 2009

Asal usul II

Suku Komering adalah satu klan dari Suku Lampung yang berasal dari Kepaksian Sekala Brak yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke-7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama Way atau Sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.
Sebagaimana juga ditulis Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering: “Adat lembaga sai ti pakai sa buasal jak Belasa Kapampang, sajaman rik Tanoh Pagaruyung pemerintah Bunda Kandung, cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, sangon kok turun-temurun jak ninik puyang paija, cambai urai ti usung dilom adat pusako”. Terjemahannya berarti “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.
Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya Marga Paku Sengkunyit, Marga Sosoh Buay Rayap, Marga Buay Pemuka Peliyung, Marga Buay Madang, Marga Semendawai (OKU) dan Marga Bengkulah (OKI). Di Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan.
Sejak abad pertengahan, Suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tan Dipulau, yang menjadi tamu di daerah Marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering.
Tan Dipulau berlabuh dan menetap di daerah Marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, Marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan. Sedangkan untuk di Marga Bengkulah, pembawa dan penyiar Islam adalah Moyang Tuan Syarif Ali dan Tuan Murarob yang berasal dari Banten dan dibantu oleh Tuan Tanjung Idrus Salam.
Tandipulau dalam Bahasa Komering berarti ‘Tuan di Pulau’. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut. Mitos lain yang beredar dan merupakan sebuah kesalahan besar yang menyatakan bahwa asal-usul Suku Komering masih ada hubungannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, dimana dikatakan bahwa Suku Komering dengan Suku Batak Sumatera Utara dikisahkan masih bersaudara, kakak-beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang Suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi nenek moyang Suku Batak. Apa yang mendasari pendapat para penulis tersebut, apakah hanya sebatas
dari sumber cerita rakyat yang tidak mempunyai bukti kongkrit dan kejelasan akan fakta tersebut. Bahkan cerita rakyat yang menyatakan mitos tersebut tidak diketahui secara menyeluruh oleh semua masyarakat Komering, dan hanya berkembang di daerah Ogan komering Ulu, itupun tidak menyebar secara luas.
Karena jika dilihat dari segi Adat Istiadat, mulai dari rumah dan pakaian adat, makanan tradisional, hukum, tatacara adat serta kebiasaan masyarakat, sama sekali tidak ditemukan kemiripan yang identik yang dapat mendifinisikan bahwa adanya hubungan asal-usul antara Suku Komering dengan Suku batak di Sumatera Utara. Kemudian jika dilihat dari segi etnis atau ras, mulai dari bentuk wajah dan warna kulit, juga tidak ditemukan kemiripan yang identik, karena biasanya orang yang berasal dari Suku Batak memiliki rahang bawah yang lebih tegas dan cenderung membentuk segi dengan tulang alis dan tulang pipi yang sedikit lebih menonjol, berbeda dengan orang yang berasal dari Suku Komering yang memiliki ciri-ciri fisik yang lebih mirip dengan ras Melayu pada umumnya.
Apa yang melatar belakangi pendapat tersebut? lagi-lagi pertanyaan ini sering terngiang pada pikiran kami, bahkan mungkin pada anda semua sebagai pembaca. Dilihat dari segi Bahasa, apakah hanya dikarenakan adanya beberapa kosa kata dari masyarakat Suku Komering ada kemiripannya dengan Suku Batak di Sumatera Utara, jika itu yang mendasari pendapat tersebut, seberapa banyak kemiripan kosa kata yang ada? Kalau hanya terdapat 10 atau 15 kosa kata itu bukan merupakan bukti kuat yang dapat membenarkan pendapat tersebut.
Jika kita cermati dengan lebih rinci kemiripan kosa kata Bahasa Komering juga terdapat pada beberapa kosa kata bahasa sunda, diantaranya: jukut (Sunda) dengan jukuk (Komering) yang berarti rumput, mulang (Sunda dan kKomering) yang berarti pulang, sireum (Sunda) dengan sorom (Komering) yang berarti semut, gancang (Sunda dan Komering) yang berarti cepat, na sebuah imbuhan yang digunakan bahasa sunda yang sama fungsinya dengan imbuhan nya dalam bahasa Indonesia juga digunakan di dalam Bahasa Komering, jelma (Sunda) dengan jelma (Komering) yang berarti manusia.
Tidak hanya dengan Suku Sunda, Bahasa Komering juga memiliki kesamaan kosa kata dengan Bahasa Melayu, baik itu Melayu Palembang maupun Melayu Piawai (Riau, Langkat, Serdang, Siak), Bahasa Aceh bahkan dengan Suku Jawa, diantara kesamaan kosa kata tersebut adalah: kawai (Melayu Piawai dan komering) yang berarti baju, sayu (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti sedih atau pikiran jauh, biduk (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti perahu, pinggan/pingan (Melayu Piawai dan Komering) yang berarti piring. Kemiripan dengan bahasa Aceh diantaranya, Apui (Aceh dan Komering) yang berarti api, Kulat/Kulak (Aceh dan Komering) yang berarti jamur, Tanoh (Aceh dan Komering) yang berarti tanah, Asu (Jawa dan Komering) yang berarti anjing, Rawang/Lawang (Jawa dan Komering) yang berarti pintu, Sapa (Jawa) dengan Sopo (Komering) yang serarti siapa.
Demikian beberapa fakta yang ada, dan sebenarnya mungkin masih terdapat banyak lagi kemiripan kosa kata lainnya, yang tentunya tidak dapat kita sajikan semuanya dalam artikel ini. Dengan beberapa kemiripan kosa kata yang ada antara bahasa komering dengan beberapa Suku di Indonesia tersebut, apakah asal-usul Suku Komering bisa dikatakan ada hubungannya dengan dengan beberapa suku tersebut? sampai saat ini tidak ada yang dapat menyatakan hal tersebut tersebut dengan tegas, karena memang semua itu memerlukan bukti yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan.
Seperti yang kita ketahui bersama, di dalam Suku Komering itu sendiri terdapat paling tidak dua ragam intonasi suara dalam berbahasa (Dialek/Logat), Dialek Suku Komering Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.
Kemudian jika masalah intonasi suara (Dialek/Logat) antara Bahasa Komering pada umumnya (Komering OKU) dibandingkan dengan Bahasa Batak yang memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berintonasi dialek/logat yang tinggi dan tegas (keras/lantang) menjadi latar belakang pendapat yang mengatakan bahwa asal usul Suku Komering masih ada hubungan yang erat dengan Suku Batak di Sumatera Utara. Lalu bagaimana dengan kemiripan intonasi antara Bahasa Komering dengan Bahasa Bugis Sulawesi dan suku-suku di Indonesia timur diantaranya Flores, Maluku serta Timor, Dengan fakta tersebut apakah suku Komering bisa dikatakan ada hubungan asal usul yang sangat erat dengan suku-suku tersebut?
Tentu saja, tidak dengan semudah itu kita dapat berargumentasi dan mengeluarkan pendapat, apalagi pendapat itu sangat terkait dengan sejarah dan asal-usul suatu suku bangsa, jangan bermain-main dengan sebuah argumentasi yang nantinya akan merusak paradigma berfikir bagi para penerus generasi sebuah suku bangsa. Dalam hal ini tentunya kami tidak bermaksud untuk menyudutkan suatu pendapat atau argumentasi seseorang, namun setidaknya hal ini kami jadikan sebagai momen untuk mencoba meluruskan sebuah pendapat yang selama ini mulai beredar di masyarakat khususnya masyarakat Komering Ulu.
Add to Google Reader or Homepage Add to The Free Dictionary Subscribe in Bloglines Add to My AOL

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls