Showing posts with label Artikel II. Show all posts
Showing posts with label Artikel II. Show all posts

Aug 25, 2011

Juluk……… Pengakuan terhadap...

Tulisan berikut ini akan komering angkat dengan judul "Juluk/Gelar …sebuah identitas pengakuan……." Di tulisan ini akan coba komering angkat apa itu gelar, kapan diberikan dan fungsi serta manfaat yang diberikan pada "Gelar" tersebut.
Dalam masyarakat komering ada beberapa macam tingkatan yang dapat dibedakan dalam pemberian gelar tapi komering tak akan membahas tingkatan tersebut. Disini komering akan membahas tentang gelar dan fungsinya.

Gelar dalam masyarakat komering berhubungan dengan status yang ada dalam dirinya yaitu ketika seorang laki-laki komering menikah dia akan mendapat gelar atau sebutan, gelar ini dapat diberikan saat silelaki tersebut menikah ataupun pada waktu-waktu mendatang (beberapa waktu setelah menikah).

Pemberian gelar ini sangat penting dalam masyarakat komering sehingga adat ini masih dipegang kuat dalam masyarakat komering dari zaman ke zaman, pemberian gelar ataupun biasa disebut juluk ataupun Golar…… tergantung pada gelar yang di dapat dari orang tua misalkan gelar yang didapat ayah dari lelaki komering adalah prabu maka biasanya gelar sang anak yang telah menikah akan turun menjadi prabu, dan diikuti nama juluk atau nama gelar nya anak tersebut yang diberikan oleh ketua adat dengan persetujuan orang tua, bila orang tuanya ber-gelar-raden maka anak laki-laki yang telah menikah tersebut akan mendapat gelar Raden dan dikuti dengan nama juluk nya, begitu pula bila nama orang tuanya bergelar ratu dan seterusnya hingga proses pemberian gelar tersebut terjadi.
Biasanya pemberian gelar tersebut dibarengi dengan berbagai Ritual yang bercampur dengan ritual keagamaan (Islam) yang berisi doa dan pengharapan orang tua maupun keluarga serta masyarakat agar dengan gelar yang diberikan si lelaki tersebut dapat menjadi orang yang akan memimpin dalam kebaikan baik memimpin diri, keluarga dan lebih-lebih masyarakat luas nantinya.

Setelah sedikit banyak mengulas tentang siapa yang berhak menerima gelar tersebut mungkin diantara pembaca ada yang bertanya mengapa bercerita tentang lelaki yang telah berkeluarga.bukan pada setiap lelaki komering. Inilah salah satu fungsi utama mengapa pemberian gelar tersebut diberikan pada lelaki yang telah menikah yaitu sebagai pembeda penyebutan nama karena biasanya penyebutan nama (memanggil) seseorang dilakukan dengan menyebut nama yang telah diberikan oleh orang tua ataupun keluarga sejak lahir, tetapi bila dia telah menikah dia akan di berikan Gelar yang nantinya ketika penyebutan nama nya (memanggil) orang tersebut dia akan dipanggil dengan gelar yang telah didapat ketika telah menikah. Penyebutan tersebut berlaku pada siapapun yang memanggil termasuk orang tua dari lelaki yang telah menikah jadi ketika contohnya bila dia sedang berkumpul dengan kerabat yang lebih muda (belum menikah) dia akan mendapat perbedaan status di depan orang banyak, dengan adat pemberian gelar inilah dapat diketahui status seseorang walaupun orang lain tidak mengetahui status yang telah didapatkannya (menikah atau belum).

Mungkin banyak pembaca yang bertanya bagaimana dengan gelar yang jatuh pada istrinya, gelar tersebut diberikan oleh ketua adat untuk seorang yang telah menikah dengan secara otomatis mengikutkan penyebutan (memanggil) sang istrinya sama dengan gelar yang diterima sang suami contoh bila sang suami mendapat gelar raden makan sang istri akan di sebut nyiraden atau niai raden dan seterusnya yang berlaku pada gelar yang diberikan pada sang suami.

Demikianlah salah satu adat yang masih bertahan di masyarakat komering yang masih tetap bangga kami pegang dan kami pelihara semoga tulisan ini akan membuka wacana baru tentang adat dan istiadat masyarakat komering……..

Feb 19, 2011

''Komering'' Mengapa...?

Tulisan ini coba komering angkat agar adanya pengertian yang selaras akan identitas masyarakat komering,
sebuah identitas yang mungkin paling banyak di sangkal dari beraneka ragamnya suku-suku yang ada di sumatera selatan maupun kemungkinan indonesia karena adanya anggapan pada masyarakat komering, dibalik stigma negatif yang ada dimasyarakat luar tentang komering, masyarakat komering dikenal sangat tekun akan beribadah, pandai berdagang dan negosiasi berkebun adalah mayoritas yang dikerjakan masyarakat komering selain bertani.
Dan bila diluar (masyarakat komering rantauan) akan berupaya menyembunyikan identitas komeringnya hal ini pernah komering alami sendiri selagi komering kuliah di yogya sampai suatu ketika komering harus mengingkari identitas komering sebagai orang palembang, sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan bahkan pernah suatu saat komering pulang kampung komering pergi ke lemabang (palembang) ke rumah teman yang asli pagar alam untuk mengajak pergi ke kampung komering walau dengan berat hati orang tuanya mengizinkan dengan alasan keamanan dan ke khawatiran.
Itulah sepenggal pengalaman pribadi komering apakah masyarakat komering hanya dikenal sebagai masyarakat yang kenal akan kekerasan dan brutal sehingga hal sepelepun masyarakat luar komering mengingkari akan keberhasilan masyarakat komering ironis memang masyarakat luar komering hanya tahu duku palembang bukan duku komering.
Bagi masyarakat komering sendiri suatu kebanggaan lahir ditanah komering walau entah berasal dari mana dan sejak kapan stigma tersebut melekat pada masyarakat komering, bila dirunut dan ditelusuri sedikit hal ini berkaitan akan kebiasaan masyarakat Sumatera Selatan khususnya masyarakat komering yang gemar membawa lading garpu (sejenis pisau) dipinggang dalam bepergian keluar rumah dan dengan kemajuan akan teknologi dan pola fikir masyarakatnya lambat laun kebiasaan yang sejak lama tersebut mulai ditinggalkan walau tetap memegang prinsip “dang mulai mona dang lijung aman ko tiboli'” sebuah prinsip yang masih akan tetap terpegang oleh masyarakat komering dimanapun.
Dari berbagai cerita dan tulisan yang beredar tentang masyarakat, keseharian dan adat istiadat komering banyak pula yang berisi tentang hujatan dan prasangka tanpa mengetahui latar belakang masyarakat dan sifat pada umunya. Sebuah identitas yang seakan tabu untuk diakui oleh orang komering sendiri karena stigma yang selalu mengikat kami yang muncul entah kapan dan entah sampai kapan. Masyarakat komering hanya berharap dapat memberikan kontribusi nyata pada pembangunan dan pada masyarakat komering sendiri pada umumnya.
Semoga masyarakat komering tidak menjadikan identitasnya sendiri seolah tabu untuk diakui walau sulit dan butuh waktu yang lama setidaknya masyarakat komering memiliki kesamaan dengan masyarakat lain di sumatera selatan dan di indonesia bahkan di dunia manapun masyarakat komering tidak pernah menutup diri akan kemajuan dan perubahan waktu demi waktu.
Sebuah aneka ragaman budaya yang selalu mewarnai kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara
Add to Google Reader or Homepage Add to The Free Dictionary Subscribe in Bloglines Add to My AOL

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls